Disaat Jokowi dan Jonan Melawan Asing, Dimanakah yang Berteriak Anti Asing? - All You can See

Latest

Thursday, February 23, 2017

Disaat Jokowi dan Jonan Melawan Asing, Dimanakah yang Berteriak Anti Asing?


http://dapurqq.com/Register.aspx?ref=911054tjh

Isu antek asing selalu digemborkan oleh kaum sapi-sapian, bahkan isu murahan tentang komunis dan asengpun digodok sedemikian rupa untuk menggiring opini publik, bahwa pemerintah saat ini merupakan antek asing, dengan logika jungkir balik dan cocok logi digunakan untuk menyerang pemerintah, yang tentu saja dari para partai-partai yang dulu sudah pernah berada dilingkungan pemerintahan selama 10 tahun tetapi tidak menghasilkan hal-hal yang cukup signifikan. Walaupun begitu, kita juga tidak boleh melupakan hasil karya pemerintahan 10 tahun yang diketuai oleh partai Demokrat ( seperti nama partai di Amerika ya) dan tentu saja PKS yang saat ini gencar menyerang pemerintahan dengan logika jungker balik. Apakah peninggalan dari masa 10 tahun itu?, peninggalan itu diantaranya adalah situs bersejarah di Hambalang dan proyek mangkrak lainnya yang seingat saya mencapai 34 proyek mangkrak.
Mengapa saya fokus kepada Demokrat dan PKS?, yang pertama, SBY saat ini seringkali nyir-nyir tidak karuan dengan bergaya mengkritik pemerintah tetapi tidak berkaca, apa yang dilakukan dimasa pemerintahannya.
Dan mengapa PKS?, karena hampir semua kader PKS begitu masive di media sosial nyir-nyir tidak jelas, dengan segala daya dan upaya, dari share berita fitnah yang tidak jelas asal-usulnya, tentang komunis, serbuan pekerja cina, inilah,itulah, bahkan yang sangat membekas adalah DS yang merupakan kader dari PKS yang pernah gagal nyaleg menghina kebijakan pemerintah mengenai gambar pahlawan di uang baru yang memuat pahlawan non muslim. Selain DS, tentu mau diakui atau tidak, Jonru juga adalah simpatisan dari PKS yang sudah di kenal di media sosial selalu menyerang pemerintahan dengan membabi buta, yang tentu saja bagi orang yang waras, akan menjadi bahan tertawaan karena logika ala Jonru yang begitu menggelitik ketiak.
 
Dimanakah mereka yang katanya anti asing?, tetapi membiarkan perusahaan asing sebesar freeport mengeruk kekayaan tanah papua dan hanya memberikan sedikit kontribusi untuk Indonesia dibandingkan oleh perusahaan-perusahaan lain seperti Telkom,BCA, BRI dan bahkan kontribusi Freeport lebih kecil dibandingkan kontribusi pahlawan devisa ( TKI ) yang pernah dihina oleh Fahri Hamzah yang merupakan orang hasil dari kaderisasi PKS, walaupun saat ini katanya sudah dipecat oleh PKS, tetapi buktinya dia masih nangkring menjadi anggota Dewan.
Saya heran, di media sosial banyak sekali yang membenci  Amerika, apa lagi kaum sumbu pendek yang selalu mengatas namakan agama untuk membuat ujaran kebencian. Kaum sumbu pendek yang membenci asing termasuk benci Amerika, juga suka nyir-nyir terkait segala kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah, kali ini diam seribu bahasa ketika pemerintahan Jokowi berperang melawan asing yang ingin seenaknya sendiri seperti PT Freeport.
Jika SBY merasa prihatin, saya merasa heran dengan orang-orang  yang suka demo dengan mengatas namakan rakyat, bahkan yang terkhir ini ada yang mengatas namakan Tuhan, membela Tuhan dengan cara berdemo, padahal jika mau membuka hati dan pikiran sedikit saja bisa diketahui, bahwa itu semua bermuatan unsur politik untuk meraih kekuasaan.
Bagi kalian yang koar-koar anti asing, ayo galang masa untuk melakukan demo melawan si asing yang yang sudah mengakar dan mengeruk hasil bumi kita dengan sumbangsih yang tidak seimbang. Ingat , yang dikeruk mereka tidak dengan mudah dapat diperbaharui, tidak seperti menanam pohon singkong yang membutuhkan waktu singkat untuk mengambil hasilnya, jadi jangan mau dibohongi pakek kata anti asing untuk mengusir orang asing tetapi yang datang juga orang asing yang tidak  membangun dan tidak memberi sumbangsih apa-apa selain membuat keributan seperti WNA yang diterima di Indonesia tetapi suka demo bikin ricuh dan merusak Bhineka Tunggal Ika.
Jika SBY selalu prihatin dengan keadaan yang menurutnya memprihatinkan, padahal pada kenyataannya, keprihatinannya bisa diubah menjadi tidak prihatin disaat dia menjabat menjadi presiden selama sepuluh tahun. Berbeda dengan Jokowi yang tidak mengeluh, Jokowi cenderung menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dengan kerja-kerja dan kerja.Jadi mari kita move on dan berjalan bersama pemerintahan untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh Indonesia, tanpa memandang SARA.

No comments:

Post a Comment