Isu antek asing selalu digemborkan oleh
kaum sapi-sapian, bahkan isu murahan tentang komunis dan asengpun
digodok sedemikian rupa untuk menggiring opini publik, bahwa pemerintah
saat ini merupakan antek asing, dengan logika jungkir balik dan cocok
logi digunakan untuk menyerang pemerintah, yang tentu saja dari para
partai-partai yang dulu sudah pernah berada dilingkungan pemerintahan
selama 10 tahun tetapi tidak menghasilkan hal-hal yang cukup signifikan.
Walaupun begitu, kita juga tidak boleh melupakan hasil karya
pemerintahan 10 tahun yang diketuai oleh partai Demokrat ( seperti nama
partai di Amerika ya) dan tentu saja PKS yang saat ini gencar menyerang
pemerintahan dengan logika jungker balik. Apakah peninggalan dari masa
10 tahun itu?, peninggalan itu diantaranya adalah situs bersejarah di
Hambalang dan proyek mangkrak lainnya yang seingat saya mencapai 34
proyek mangkrak.
Mengapa saya fokus kepada Demokrat dan
PKS?, yang pertama, SBY saat ini seringkali nyir-nyir tidak karuan
dengan bergaya mengkritik pemerintah tetapi tidak berkaca, apa yang
dilakukan dimasa pemerintahannya.
Dan mengapa PKS?, karena hampir semua
kader PKS begitu masive di media sosial nyir-nyir tidak jelas, dengan
segala daya dan upaya, dari share berita fitnah yang tidak jelas
asal-usulnya, tentang komunis, serbuan pekerja cina, inilah,itulah,
bahkan yang sangat membekas adalah DS yang merupakan kader dari PKS yang
pernah gagal nyaleg menghina kebijakan pemerintah mengenai gambar
pahlawan di uang baru yang memuat pahlawan non muslim. Selain DS, tentu
mau diakui atau tidak, Jonru juga adalah simpatisan dari PKS yang sudah
di kenal di media sosial selalu menyerang pemerintahan dengan membabi
buta, yang tentu saja bagi orang yang waras, akan menjadi bahan
tertawaan karena logika ala Jonru yang begitu menggelitik ketiak.
Dimanakah mereka yang katanya anti asing?,
tetapi membiarkan perusahaan asing sebesar freeport mengeruk kekayaan
tanah papua dan hanya memberikan sedikit kontribusi untuk Indonesia
dibandingkan oleh perusahaan-perusahaan lain seperti Telkom,BCA, BRI dan
bahkan kontribusi Freeport lebih kecil dibandingkan kontribusi pahlawan
devisa ( TKI ) yang pernah dihina oleh Fahri Hamzah yang merupakan
orang hasil dari kaderisasi PKS, walaupun saat ini katanya sudah dipecat
oleh PKS, tetapi buktinya dia masih nangkring menjadi anggota Dewan.
Saya heran, di media sosial banyak sekali
yang membenci Amerika, apa lagi kaum sumbu pendek yang selalu mengatas
namakan agama untuk membuat ujaran kebencian. Kaum sumbu pendek yang
membenci asing termasuk benci Amerika, juga suka nyir-nyir terkait
segala kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah, kali ini diam
seribu bahasa ketika pemerintahan Jokowi berperang melawan asing yang
ingin seenaknya sendiri seperti PT Freeport.
Jika SBY merasa prihatin, saya merasa
heran dengan orang-orang yang suka demo dengan mengatas namakan rakyat,
bahkan yang terkhir ini ada yang mengatas namakan Tuhan, membela Tuhan
dengan cara berdemo, padahal jika mau membuka hati dan pikiran sedikit
saja bisa diketahui, bahwa itu semua bermuatan unsur politik untuk
meraih kekuasaan.
Bagi kalian yang koar-koar anti asing, ayo
galang masa untuk melakukan demo melawan si asing yang yang sudah
mengakar dan mengeruk hasil bumi kita dengan sumbangsih yang tidak
seimbang. Ingat , yang dikeruk mereka tidak dengan mudah dapat
diperbaharui, tidak seperti menanam pohon singkong yang membutuhkan
waktu singkat untuk mengambil hasilnya, jadi jangan mau dibohongi pakek
kata anti asing untuk mengusir orang asing tetapi yang datang juga orang
asing yang tidak membangun dan tidak memberi sumbangsih apa-apa selain
membuat keributan seperti WNA yang diterima di Indonesia tetapi suka
demo bikin ricuh dan merusak Bhineka Tunggal Ika.
Jika SBY selalu prihatin dengan keadaan
yang menurutnya memprihatinkan, padahal pada kenyataannya,
keprihatinannya bisa diubah menjadi tidak prihatin disaat dia menjabat
menjadi presiden selama sepuluh tahun. Berbeda dengan Jokowi yang tidak
mengeluh, Jokowi cenderung menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya
dengan kerja-kerja dan kerja.Jadi mari kita move on dan berjalan bersama
pemerintahan untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh Indonesia,
tanpa memandang SARA.










No comments:
Post a Comment